The Words
Jadi ceritanya gini, ada 3 kata
yang sering disebut-sebut di angkatan gue, ga Cuma angkatan gue sih tapi di
lingkungan pendidikan gue sekarang. Mereka adalah
udah jadi mahasiswa STAN. Psytrap itu udah kayak rahasia umum di kalangan mahasiswa. Jadi kalo kami ditanyain “Apa itu psytrap?”, kayaknya kami bisa banget jelasin itu dengan kata-kata yang sama saking pahamnya haha.
Psytrap adalah suatu kondisi
dimana seseorang (mahasiswa) dalam suatu keadaan meyakinkan temannya bahwa ia
memiliki kesamaan nasib seperti temannya ini. Keseringan sih terjadi saat jelang
UTS, UAS atau yang paling sederhana ya sebelum quiz. Begini ilustrasinya:
Nah, ini bahasan yang cukup
berat. Mengapa? Karena semua mahasiswa bisa hedon tapi kuantitasnya berbeda.
Jadi, sebagai kampus yang dihimpit sejumlah mall (PIM, ITC Cipulir, BinPlaz,
Harmoni, BXchange, Lotte mall, dan berbagai resto fast food serta minimarket
hitz lainnya), membuat tingkat kehedonan mahasiswa semakin tinggi. Apalagi
dengan 97% (kemungkinan), mahasiswa itu ngekos, jadi udah bisa dipastikan
mereka selalu dapat jatah bulanan yang lumayan untuk dipegang seseorang usia
17-21 tahunan. Iya sih uang tersebut dipake buat kehidupan mereka selama
sebulan ntah makan, beli ini, bayar itu. Tapi, beberapa teman yang gue tahu
terkadang menghabiskan sejumlah uang bulanan mereka untuk dihabiskan di satu
waktu sebagai wujud hedonismenya. Dengan atau tanpa disadari oleh pribadi
masing-masing.
#Hedon
#Baper
#Psytrap
Ya, sebenarnya ada lebih banyak
kata yang sering dibahas. Kata-kata yang beberapa kali pernah gue denger dan
baru paham maknanya sekarang. Pertama kita bahas psytrap.
Psytrap? Widih, dari namanya
keren yekan. Jadi kata psytrap ini adalah
kata yang akan menjadi most topic
kalo udah jadi mahasiswa STAN. Psytrap itu udah kayak rahasia umum di kalangan mahasiswa. Jadi kalo kami ditanyain “Apa itu psytrap?”, kayaknya kami bisa banget jelasin itu dengan kata-kata yang sama saking pahamnya haha.
Psytrap adalah suatu kondisi
dimana seseorang (mahasiswa) dalam suatu keadaan meyakinkan temannya bahwa ia
memiliki kesamaan nasib seperti temannya ini. Keseringan sih terjadi saat jelang
UTS, UAS atau yang paling sederhana ya sebelum quiz. Begini ilustrasinya:
Temen : Eh gue ga paham sama sekali sama materi ASDF nih, udah dibaca
berkali-kali dari pagi
sampe sore.
Mana besok quiz lagi, ajarin dong plis!!
Lo : Ah gue juga masih ga ngerti kok. Lu mending sempet baca,
nah gue? Udah, besok berdoa aja
gajadi
quiz atau soalnya gampang.
Faktanya: lo seharian di kamar, ntah kosan atau rumah karena lo anak PP,
lo udah luar kepala sama materi ASDF dari 2 hari yang lalu dan waktu dijelasin
dosen lo itu paham banget. Saking pahamnya lo sampe ketiduran pas diterangin
ahaha. Lo dalam kondisi siap menghadapi quiz dan siap menerima nilai A untuk
hasilnya. Tapi, saat temen lo panik karena belum ngerti materi, sebagai teman
yang baik lo meyakinkan dia kayak, gue
juga ga paham kok tenang aja ada gue disini yang nemenin lo seandainya nilai lo
C.
Dan lo bakal mendapat cibiran dari temen lo ini ketika lo sukses dapet,
seengganya, A- di quiz tersebut. Sekarang sih kayaknya udah jarang ada yang
bisa diperdaya kayak gitu disini karena udah pada paham ahaha. Meski pun dengan
berbagai modus dan gerakan #AntiPsytrap yang sering didengungkan (diduga bisa
merusak psikologis seseorang), hal ini masih bisa terjadi dengan atau tidak
sengaja.
Jadi, moral value yang bisa
diambil adalah jangan percaya
pada siapa pun sebelum ujian berlangsung. Percaya diri adalah harga mati! Tapi
sebelum percaya diri, jangan lupa belajar, pahami dan kuasai materinya.
Baper atau bawa perasaan. Duh,
awas baca paragraf ini langsung galau hihi. Kata baper itu udah gue kenal dari
masih sekolah di Blok M. Dulu kenalnya sih prasmul.
Mereka masih seordho deh pokoknya ;)
Baper atau bawa perasaan adalah
suatu kondisi dimana seseorang kalo lagi ngumpul, belajar, main, olahraga,
ngechat atau apapun dan terjadi suatu percakapan, dia bakal mellow sendiri,
ngambek sendiri. Yap, meski namanya bawa perasaan,
tapi perasaan disini Cuma ngambek, galau, risau, mellow gitu. Selain perasaan
tersebut, gabisa disebut baper.
Oiya kalo prasmul itu perasaan
mulu. Ya, lagi-lagi ada kata perasaan dan perlakuannya sama kayak baper, tanpa
fasilitas apapun yang mengistimewakan atau meringankan pengertiannya.
Berhubung lingkungan yang paling
sering gue temuin saat ini adalah anak-anak bc, jadi gue Cuma mengamati kata
baper dan prakteknya ini sering bergejolak di cowok-cowoknya. Gue ambil contoh
temen sekelas gue sebut saja Wumbo. Dia ini kadang antara marah dan becanda
susaaahhh banget ketebak. Jadi lagi asik bercanda, tiba-tiba dia baper, ngambek
gitu. Ntar dikatain “Yeuu Wumbo baper dah,” terus dia kayak marah gitu tapi
suatu waktu dia bilang kalo itu bercanda tapi bikin kita ngeri juga bercandain
dia baper gitu haha. Nyusahin terkadang-_-
Menurut gue pribadi, baper itu
suatu kondisi yang ga seru abis. Kadang, suatu percakapan yang asik dan
bermanfaat, bakal jadi zonk kalo ada yang baper (contohnya ya kayak kasus si
Wumbo). Terus kalo udah ada yang baper, buat
gue, bakal males lagi yang namanya bikin percakapan sama orang baper itu.
Kecuali dia udah berubah atau dia ngebuat percakapan lain. Baper ga ada
salahnya sih, toh pribadi orang kan beda-beda. Lagi pula baper bisa bikin
seseorang jera seandainya ada ucapan atau bercandaannya yang kurang berkenan di
hati orang lain. Semua tinggal bagaimana kita menyikapi sifat dan sikap
seseorang terhadap kita.
Jadi, moral value dari kata dan
praktek baper adalah bercanda
boleh aja tapi harus memperhatikan kaidah yang berlaku. Harus
memerhatikan semua norma yang pernah dipelajari di matkul Kewarganegaraan
(asiik) yaitu norma agama, hokum, adat, kesopanan dan kesusilaan. Lalu, ga senang sama pendapat orang lain itu
wajar asalkan disampaikan dengan tindakan yang benar, bukannya baper.
The biggest one: Hedon.
Hedon atau hedonism (menurut analisis saya) adalah suatu keadaan dimana seseorang (mahasiswa)
melakukan
serangkaian kegiatan di luar perkuliahan yang mana kegiatan tersebut ialah
menghambur-hamburkan sejumlah uang dengan nominal cukup besar untuk sekedar mencari
kesenangan dan kepuasan individu atau sekelompok individu.
Nah, ini bahasan yang cukup
berat. Mengapa? Karena semua mahasiswa bisa hedon tapi kuantitasnya berbeda.
Jadi, sebagai kampus yang dihimpit sejumlah mall (PIM, ITC Cipulir, BinPlaz,
Harmoni, BXchange, Lotte mall, dan berbagai resto fast food serta minimarket
hitz lainnya), membuat tingkat kehedonan mahasiswa semakin tinggi. Apalagi
dengan 97% (kemungkinan), mahasiswa itu ngekos, jadi udah bisa dipastikan
mereka selalu dapat jatah bulanan yang lumayan untuk dipegang seseorang usia
17-21 tahunan. Iya sih uang tersebut dipake buat kehidupan mereka selama
sebulan ntah makan, beli ini, bayar itu. Tapi, beberapa teman yang gue tahu
terkadang menghabiskan sejumlah uang bulanan mereka untuk dihabiskan di satu
waktu sebagai wujud hedonismenya. Dengan atau tanpa disadari oleh pribadi
masing-masing.
Tapi ga semua mahasiswa itu hedon
kok. Banyak juga yang masih mementingkan hal lain selain itu. Gue pribadi
termasuk orang yang ga suka hedon. Selain ga punya uang jajan bulanan yang bisa
sekali dateng dapat banyak, ntahlah pokoknya ga suka aja ngeliat orang-orang
berhedon. Kadang terbersit rasa pengen juga nyobain makanan kayak yang mereka
beli, main di sana sini tapi sering kepikiran yah, adek gue ga ngerasain nanti *alibi alibi alibi*
wkwkwk.Ga suka hedon tapi kalo dihedonin mah ga nolak :p
Jadi, moral value dari kata hedonisme adalah menghibur diri sendiri sah-sah aja, dimana pun kapan pun, asalkan tidak lupa dengan orang-orang tersayang dalam hidup lo karena sejatinya mereka juga bisa menghibur kita di berbagai kondisi. Dengan murah meriah tentunya ;) cukup ngumpul sekeluarga dan bikin pesta makanan hmm yumyum!
Carpe diem, quam minimum credula postero,
Ayu Choirunnisa

Komentar
Posting Komentar