14/8/2009 - 14/8/2012
Sangat tak terasa, 3 tahun lewat begitu saja tanpa ada apa-apa yang berarti antara kau dan aku. Hanya aku yang berperan aktif. Bukan kau. Apalagi kau dan aku. Jadi ya, yang ngerasain suka-duka ya cuma aku. Dan keseringan duka kayaknya. Sakitnya. Nyelekitnya. Nyeseknya. Galaunya. Betenya. Geregetnya. Semuamuanya.
3 tahun yang lalu, tanpa kau sadari, kau berhasil mengubah dunia kecilku yang benar-benar kecil. 3 tahun yang lalu pula, rasanya jalan menuju Roma baru saja terbuka. Dan 3 tahun berlalu sejak saat itu, kau tak tahu. Tak pernah mau tahu. Dan takkan pernah tahu.
3 tahun lalu, kurasa hanya rasa suka sesaat yang akan hilang seiring bumi berotasi. Tapi, ntah dengan kekuatan mistis apa, aku bisa membawanya sampai saat ini. Saat dimana kau masih belum tahu seperti apa rasanya jadi aku. Hal-hal gila yang kulakukan agar bisa melihatmu, sungguh diluar pribadiku. Jika diingat kekonyolan yang kuperbuat selama 3 tahun terakhir terhadap perasaanku padamu adalah hal sia-sia yang baru kusadari saat ini. Jika saja aku tahu akan seperti ini, mungkin sudah dari beberapa bulan setelah aku mengenalmu, aku langsung mengatakannya. Hal yang tidak pernah terkatakan langsung, yang selalu terpendam dalam selama 3 tahun tanpa jeda.
Mungkin sebelum kamu, sudah beberapa kali aku jatuh hati. Namun, yang namanya cinta pertama baru ku alami denganmu. Terkadang, ketika semua detikku hanya terpusat padamu, selalu muncul pertanyaan yang sama, "cinta pertama" atau "cinta pada pandangan pertama"? Walau tak pernah ada kontak yang berarti, kamu tak tahu, kamu selalu menjadi anganku.
3 tahun lalu, rasa itu masih baru. Masih gencar. Masih muda. Masih ingin mencari tahu. Masih butuh kamu. Dan setelah 3 tahun, rasa itu kian menua. Sudah lelah. Terlalu banyak yang telah diketahui dan mendewasakan hati. Rasa itu kian rapuh. Ia semakin membutuhkanmu. Hanya saja, rasa itu tahu diri. Waktunya tinggal sedikit. Sia-sia jika tetap mengharapkan kehadiranmu disaat terakhirnya. Dia tau, hanya akan merepotkanmu dan kamu takkan pernah peduli.
Jika kuingat lagi 3 tahun terakhir dalam hidupku, aku begitu mendambakanmu. Aku selalu punya alasan untuk membelamu. Dimataku, kau selalu benar. Bahkan hal terbodoh yang kau lakukan, kuanggap sebagai jiwa humoris yang kau miliki. Tapi setelah 3 tahun berlalu, mendambakanmu bukanlah diriku. Aku masih menantimu tapi tak lagi mendambakanmu. Jika 3 tahun lalu aku terlihat sangat menggilaimu, mungkin itu karena aku buta oleh ketampananmu. Aku sadar, 3 tahun menyukaimu karena aku tertarik ketampananmu. Parahnya, sudah tahu tapi aku tak kunjung sadar. Aku tetap jatuh hati seakan kau memiliki kepribadian yang luar biasa.
Hahaha, memang yang namanya sudah lalu pasti hanya akan jadi bahan candaan. Apalagi jika teringat sebuta apa aku terhadapmu. Bahkan sifat angkuhmu, berhasil menerobos masuk alam bawah sadarku. Aku tak tahu seberapa besar ketertarikanmu padaku sehingga bisa membuatku melupakan dunia kecilku. 3 tahun terakhir, terlalu banyak kamu yang mendominasi hidupku. Tapi, apakah pernah aku mendominasi harimu barang 24jam saja? Akankah kamu mengerti? Akankah kamu sadari? Akankah kamu tahu? Akankah kamu peduli? Akankah kamu mau berubah? Akankah kamu rasakan?!
Komentar
Posting Komentar